Rincian Data Bumdes.id
0 |
0 |
Total Data BUM Desa |
BUM Desa Rintisan |
|
*Bintang 1 - 2 |
|
0 |
0 |
Bumdes Berkembang |
BUM Desa Maju |
|
*Bintang 3 |
*Bintang 4 - 5 |
Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, Yogyakarta, Gorontalo, Jambi,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung,
Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua
Barat, Riau, Sulawesi
Barat, Sulawesi Tegah, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara
Profil BUM Desa Indonesia
Mereka adalah seluruh mitra yang berkolaborasi dengan dengan kami.
Nomor Registrasi: 34.04.13.2003.016
Jalan Parasamya No 44 Beran Lor Tridadi Sleman
Nomor Registrasi: 19.06.02.2011.003
jalan jendral sudirman, desa limbongan rt 07
Nomor Registrasi: 53.04.05.2003.015
Raikatar
Nomor Registrasi: 53.19.08.2009.001
TANGKUL
Nomor Registrasi: 33.01.07.2007.934
Jl.Masjid Baiturrahman RT.01 RW.08
Nomor Registrasi: 33.01.13.2013.046
Jl.Kantor Desa Karangreja
Periode: Juli 2024
Bumdes TV
Kumpulan video edukatif terkait peraturan dan isu terbaru Bumdes di Indonesia.
Kementerian Desa melalui Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 menetapkan alokasi Dana Desa sebesar 20% (dua puluh persen) untuk program ketahanan pangan. Kebijakan ini menjadi momentum penting bagi Desa dan BUM Desa untuk mengembangkan usaha produktif yang tidak hanya menyerap anggaran, tetapi mampu menciptakan model bisnis yang terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan Kick Off Sekolah Ketahanan Pangan (disingkat Sekolah Ketapang) yang diselenggarakan bumdes.id tanggal 27 November 2025, salah satu Narasumber yakni Dosen FEB UMY dan Founder bumdes.id Dr. Rudy Suryanto menyampaikan 5 (lima) Aspek Strategi BUMDES menjadi Mitra Strategis, salah satunya yaitu Aspek Kerjasama dimana BUM Desa menjadi wadah dan penghubung Desa dengan pihak luar.
Untuk kerjasama dengan pihak luar atau Industri, hadir juga di Kick Off Sekolah Ketapang dari Sinergi Farm perusahaan Agro yang fokus pada sektor peternakan melalui pengelolaan domba dan pertanian. Sinergi Farm telah aktif mendampingi lima BUM Desa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pengembangan usaha pertanian dan peternakan. Pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada aspek teknis budidaya, tetapi mencakup penguatan operasional serta analisis kelayakan usaha. Materi yang diberikan meliputi proyeksi pendapatan, perhitungan margin, hingga kajian kelayakan bisnis, sehingga desa memiliki dasar pengambilan keputusan yang rasional sebelum melakukan investasi maupun ekspansi usaha.
Selain itu, Sinergi Farm juga berpengalaman dalam menyusun Feasibility Study (FS) yang ringkas, komprehensif, dan realistis, sehingga dapat langsung digunakan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko usaha. Dengan jaringan kolaborasi yang telah terbagun di berbagai daerah, Sinergi Farm tidak hanya berfokus pada pengembangan wilayah DIY, tetapi juga membuka peluang penguatan ekosistem ketahanan pangan berbasis desa secara nasional.
Dalam Kick Off Sekolah Ketahanan Pangan, Destarafi Perdana Islami selaku Direktur Utama Sinergi Farm, menegaskan bahwa pengembangan ketahanan pangan berbasis desa harus dibangun dari perspektif industri dengan dua fondasi utama, yaitu standarisasi dan keberlanjutan. Sebagai perusahaan agro yang bergerak di bidang peternakan kambing perah dan domba pedaging, Sinergi Farm telah membangun pola kemitraan terstandar bersama BUM Desa dan peternak individu agar proses produksi, kualitas hasil, serta model bisnis dapat terukur dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara BUM Desa dan industri seperti Sinergi Farm menjadi model konkret bagaimana ketahanan pangan desa dapat dibangun secara profesional dan berkelanjutan. Sinergi Farm menekankan pentingnya standarisasi mutu, kepastian pasar melalui skema off-taker, serta kesepakatan awal terkait harga, volume, dan kualitas sebagai fondasi kemitraan yang sehat. Melalui pola Perjanjian Kerja Sama (PKS), sistem grading, dan pendampingan produktivitas, BUM Desa tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi sebagai mitra strategis dalam rantai pasok industri yang terukur dan kompetitif.
Melalui Sekolah Ketahanan Pangan, Bumdes.id mendorong BUM Desa agar memahami standar industri, mampu menyusun model bisnis, serta membangun kemitraan berbasis kepastian pasar. Dengan sinergi antara BUM Desa, industri, dan penguatan kapasitas melalui Sekolah Ketapang, ketahanan pangan desa dapat tumbuh lebih stabil, produktif, dan memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.
Bumdes.id berkomitmen terus memperluas jejaring kolaborasi strategis agar BUM Desa tumbuh sebagai pelaku usaha yang profesional, adaptif, dan berkelanjutan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dari tingkat desa.
Penulis : Ghulam
Editor : Diana Arta
Program ketahanan pangan BUM Desa merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 yang mengamanatkan alokasi minimal 20% (dua puluh persen) Dana Desa untuk mendukung sektor ketahanan pangan. Dana tersebut menjadi penyertaan modal BUM Desa yang dikelola secara profesional dan dipertanggungjawabkan sebagaimana unit usaha lainnya, dengan fokus pada sektor pertanian, perikanan, peternakan, maupun perkebunan.
Salah satu BUM Desa yang berhasil menjalankan program Ketahanan Pangan adalah BUM Desa Oerip Soemohardjo (yang biasa disingkat BUM Desa OS) Sardonoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Direktur BUM Desa OS Sardonoharjo, Cahyo Binarto, menyampaikan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak dapat dibebankan hanya kepada pengurus BUM Desa atau Direktur BUM Desa, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak. Dukungan regulasi pemerintah desa, partisipasi masyarakat petani, serta keterlibatan stakeholder pasar menjadi faktor kunci keberhasilan. Ia juga menekankan bahwa kehadiran Program Makan Bergizi Gratis dan dapur SPPG membuka peluang pasar yang semakin memperkuat ekosistem usaha pangan desa.
Dalam pelaksanaannya, Desa perlu menyiapkan lahan produktif, infrastruktur pendukung, pemanfaatan teknologi, serta mendorong keterlibatan generasi muda. Kerja sama dengan perguruan tinggi, dinas terkait, dan tenaga ahli menjadi bagian penting untuk memitigasi risiko usaha di sektor pertanian dan peternakan yang memiliki tingkat ketidakpastian cukup tinggi.
Dalam kegiatan Sekolah BUM Desa yang diselenggarakan bumdes.id dan diikuti oleh 25 BUM Desa Kabupaten Muara Enim, Cahyo Binarto menyampaikan agar BUM Desa tidak perlu ragu mengambil peluang pengelolaan dana ketahanan pangan, namun tetap menjalankannya dengan perencanaan matang, disiplin tata kelola, dan komitmen yang serius demi mewujudkan kemandirian ekonomi desa.
Penulis : Ghulam
Editor : Diana Arta
Bumdes.id mendampingi 25 BUM Desa se-Kabupaten Muara Enim untuk Studi Lapangan ke Kebun Ketahanan Pangan yang dikelola oleh BUM Desa Amarta Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Pelatihan Peningkatan Kapasitas dan Kompetensi SDM Pengurus BUM Desa Kabupaten Muara Enim yang difasilitasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Muara Enim.
Program ketahanan pangan BUM Desa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan pemerintah melalui Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025, dengan pemberian alokasi 20% (dua puluh persen) dari dana desa diperuntukkan bagi ketahanan pangan desa.
Salah satu BUM Desa yang berhasil menerapkan program ini adalah BUM Desa Amarta Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Direktur BUM Desa Amarta, Agus Setyanta, menyampaikan bahwa program ketahanan pangan di Desa Pandowoharjo mulai dijalankan pada tahun 2025 sebagai mandat baru hasil musyawarah desa, dengan pengelolaan dana 20% Dana Desa yang dipercayakan kepada BUM Desa. Di Desa Pandowoharjo, program yang dijalankan tidak hanya berfokus pada budidaya tanaman seperti pepaya, jagung, bawang merah, ubi jalar, cabai, dan sayuran, tetapi juga membangun kawasan edukasi pertanian yang melibatkan Gapoktan, Kelompok Wanita Tani, serta petani milenial. Kolaborasi ini dimulai sejak tahap perencanaan melalui pembentukan tim kajian desa untuk menentukan jenis usaha sesuai potensi dan musim tanam.
Sejauh ini, BUM Desa Amarta telah berhasil melakukan panen melon dan sayuran masa tanam pendek seperti kangkung, sementara komoditas lain masih dalam tahap pertumbuhan. Meski menghadapi tantangan musim, program yang mulai berjalan pada pertengahan tahun ini dinilai telah memberikan manfaat dan menjadi pembelajaran berharga dalam pengelolaan unit usaha pangan desa.
Agus Setyanta mengajak para pengelola BUM Desa untuk berani mengambil peluang pengelolaan dana ketahanan pangan. Menurutnya, tantangan di lapangan dapat diatasi melalui kolaborasi dan pendampingan yang tepat, termasuk bekerja sama dengan lembaga pendamping seperti Bumdes.id.
Bumdes.id berkomitmen terus mendampingi BUM Desa dalam memperkuat kapasitas usaha sehingga kebijakan ketahanan pangan desa dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Penulis : Ghulam
Editor : Diana Arta