Konsultasi Masalah BUM Desa Kamu Gratis!

Cek Sekarang!

Proposal

Temukan solusi peningkatan kapasitas SDM dan sistem keuangan BUMDesa melalui program PJJO. Unduh proposal untuk mengetahui seluruh manfaat dan mekanisme pendampingannya.

Download Proposal

Apa saja program kami

gambar pelatihan bum desa
Pelatihan BUM Desa

Kami memberikan layanan pelatihan baik secara online maupun offline dengan didukung konsultan dan praktisi berpengalaman soal Bumdes

gambar pelatihan bum desa
Pendampingan BUM Desa

Kami memberikan layanan pendampingan baik secara online maupun offline dengan didukung konsultan dan praktisi berpengalaman soal Bumdes

gambar pelatihan bum desa
Layanan Digital

Kami menyediakan layanan digital yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan Bumdes, seperti Cek Kesehatan Usaha Bumdes, Sistem Aplikasi Akuntansi Bumdes dan layanan konsultasi lainnya

Cek Kesehatan Usaha BUM Desa

Data Cek Kesehatan Usaha
BUM Desa Seluruh Indonesia

Rincian Data Bumdes.id

0

0

Total Data BUM Desa
BUM Desa Rintisan

*Bintang 1 - 2

0

0

Bumdes Berkembang
BUM Desa Maju

*Bintang 3

*Bintang 4 - 5

Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi
Barat, Sulawesi Tegah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara

Profil BUM Desa Indonesia

Profil Online BUM Desa Indonesia

Mereka adalah seluruh mitra yang berkolaborasi dengan dengan kami.

Newsletter terbaru

Newsletter Meravi Edisi 8 - Kilas Balik Perjalanan Meravi.id bersama Mitra

Periode: 2026

Newsletter Meravi Edisi 8  - Kilas Balik Perjalanan Meravi.id bersama Mitra

Download Newsletter

Bumdes TV

Video Edukasi BUM Desa

Kumpulan video edukatif terkait peraturan dan isu terbaru Bumdes di Indonesia.

Artikel Terbaru

Strategi Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi Merah Putih untuk Ekonomi Desa Berkelanjutan

Strategi Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi Merah Putih untuk Ekonomi Desa Berkelanjutan

Kolaborasi antara BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memiliki peluang untuk memperkuat ekosistem ekonomi desa. Namun, peluang tersebut tidak otomatis menghasilkan kerja sama yang efektif. Diperlukan tujuan yang jelas, pembagian peran, perencanaan bisnis, serta mekanisme evaluasi agar kolaborasi dapat berkembang dalam jangka panjang.

Menata kolaborasi bukan berarti membuat kedua lembaga memiliki fungsi yang sama. Sebaliknya, kerja sama dapat dibangun dengan memanfaatkan perbedaan kapasitas dan jaringan masing-masing untuk menjawab kebutuhan ekonomi desa.

  1. Menentukan Ruang Kolaborasi Berdasarkan Kebutuhan

Ruang kerja sama dapat muncul dari berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari pengembangan produk, distribusi, pemasaran, pengadaan, pemanfaatan teknologi, hingga pembangunan jejaring kemitraan.

Namun, tidak semua peluang harus dikerjakan bersama. Pemilihan bidang kolaborasi perlu mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, sumber daya, dan tujuan masing-masing lembaga.

Pemetaan sederhana dapat membantu menjawab beberapa pertanyaan penting: masalah apa yang ingin diselesaikan, siapa yang membutuhkan solusi, sumber daya apa yang tersedia, dan peran apa yang paling tepat bagi masing-masing lembaga.

Dengan cara tersebut, kolaborasi tidak dibangun hanya karena terdapat peluang, tetapi karena memang terdapat kebutuhan yang dapat dijawab melalui kerja sama.

  1. Menyusun Model Bisnis yang Jelas

Gagasan kolaborasi perlu diterjemahkan menjadi model bisnis yang dapat dijalankan. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah Business Model Canvas (BMC).

BMC membantu memetakan beberapa unsur penting, seperti pelanggan, proposisi nilai, saluran, hubungan pelanggan, aktivitas utama, sumber daya, mitra, struktur biaya, dan sumber pendapatan.

Dalam konteks BUM Desa dan koperasi, alat ini dapat digunakan untuk melihat hubungan antarlembaga secara lebih konkret. Siapa yang menjadi pelanggan? Nilai apa yang ditawarkan? Siapa yang menyediakan sumber daya? Bagaimana produk atau layanan didistribusikan? Bagaimana biaya dan manfaat dikelola?

Pertanyaan tersebut membantu mengubah gagasan kerja sama menjadi model usaha yang lebih terukur.

  1. Menyusun Peta Jalan Kolaborasi

Kolaborasi yang berkelanjutan membutuhkan tahapan yang jelas. Peta jalan dapat membantu BUM Desa dan koperasi memahami apa yang perlu dilakukan dari tahap awal hingga pengembangan.

Tahapan dapat disusun secara sederhana, misalnya:

  1. Pemetaan potensi dan kebutuhan untuk memahami kondisi ekonomi serta peluang yang tersedia.

  2. Pemilihan peluang prioritas berdasarkan kebutuhan pasar, kapasitas, dan tingkat kelayakan.

  3. Penyusunan model bisnis untuk menentukan pelanggan, nilai, aktivitas, sumber daya, mitra, dan biaya.

  4. Uji coba kolaborasi dalam skala yang dapat dikendalikan.

  5. Penguatan pasar dan operasional setelah model awal menunjukkan hasil yang layak.

  6. Evaluasi dan pengembangan berdasarkan data dan pengalaman pelaksanaan.

Tahapan tersebut tidak harus bersifat kaku. Jika kondisi lapangan berubah, peta jalan dapat disesuaikan tanpa kehilangan tujuan utama.

  1. Memastikan Kesiapan Sebelum Berkembang

Pertumbuhan usaha membutuhkan kesiapan. Sebelum memperluas kolaborasi, BUM Desa dan koperasi perlu melihat kemampuan sumber daya manusia, modal, administrasi, teknologi, data, produksi, dan akses pasar.

Kesiapan menjadi penting agar ekspansi tidak dilakukan lebih cepat daripada kemampuan lembaga. Misalnya, peningkatan permintaan tidak akan memberikan manfaat apabila kapasitas produksi dan distribusi belum mampu mengimbanginya.

Karena itu


Dari Desa untuk Desa: Strategi BUM Desa dan Koperasi Merah Putih Memperkuat Ekonomi Lokal

Dari Desa untuk Desa: Strategi BUM Desa dan Koperasi Merah Putih Memperkuat Ekonomi Lokal

Membangun ekonomi dari desa berarti melihat sumber daya lokal sebagai bagian penting dari proses pembangunan. Produk masyarakat, keterampilan, pengetahuan, budaya, jaringan sosial, hingga aktivitas ekonomi yang telah berjalan dapat menjadi modal untuk menciptakan peluang usaha.

Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya. Dibutuhkan kelembagaan yang mampu menghubungkan potensi dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Dalam konteks ini, BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat memiliki ruang untuk berkolaborasi sesuai dengan fungsi, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing.

  • Mengembangkan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal

Setiap desa memiliki karakter yang berbeda. Ada desa yang memiliki potensi pertanian, perikanan, pariwisata, kerajinan, perdagangan, jasa, maupun sumber daya lainnya.

Pemetaan potensi menjadi langkah awal untuk memahami apa yang tersedia dan bagaimana sumber daya tersebut dapat dikembangkan. Pemetaan tidak hanya melihat sumber daya alam, tetapi juga pelaku usaha, keterampilan masyarakat, fasilitas, teknologi, aktivitas ekonomi, serta peluang pasar.

Hasil pemetaan kemudian perlu diterjemahkan menjadi pilihan usaha yang realistis. Tidak semua potensi harus dijadikan bisnis. Peluang perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan konsumen, kemampuan pengelola, ketersediaan sumber daya, risiko, dan prospek ekonominya.

  • Membangun Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi

BUM Desa dan koperasi memiliki karakter kelembagaan yang berbeda. Karena itu, kolaborasi tidak harus membuat keduanya menjalankan aktivitas yang sama.

Kerja sama dapat dibangun berdasarkan kebutuhan nyata. Misalnya, BUM Desa mengembangkan produk atau layanan tertentu, sedangkan koperasi dapat membantu menghubungkan kegiatan tersebut dengan jaringan anggota atau saluran distribusi yang sesuai dengan kapasitasnya.

Bentuk kerja sama dapat berkembang seiring pengalaman. Yang penting, tujuan, peran, tanggung jawab, mekanisme kerja, serta ukuran keberhasilan perlu disepakati dengan jelas sejak awal.

Dengan pembagian peran yang sehat, perbedaan kapasitas antarlembaga justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk membangun ekosistem ekonomi desa.

  • Membangun Kekuatan Ekonomi dari Dalam Desa

Penguatan ekonomi lokal dapat dimulai dari aset yang telah dimiliki masyarakat. Petani, pengrajin, pelaku UMKM, kelompok masyarakat, dan penyedia jasa dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi desa.

BUM Desa dan koperasi dapat membantu menghubungkan pelaku tersebut dengan peluang yang sesuai. Pelaku lokal dapat berperan sebagai pemasok, produsen, pengolah, distributor, maupun mitra pemasaran.

Pendekatan ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi. Semakin banyak pelaku yang terhubung secara produktif, semakin besar peluang terbentuknya ekosistem usaha yang saling mendukung.

  • Menciptakan Nilai yang Berputar di Desa

Aktivitas ekonomi yang terhubung dapat menciptakan perputaran nilai di tingkat lokal. Sebagai contoh, produk pertanian dapat melibatkan petani sebagai pemasok, pelaku lokal sebagai pengolah, pihak lain dalam pengemasan dan distribusi, serta lembaga ekonomi desa dalam pengembangan pasar.

Setiap mata rantai dapat memberikan nilai yang berbeda. Karena itu, pengembangan ekonomi desa tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada bagaimana produk diproses, dipasarkan, dan sampai kepada konsumen.

Kolaborasi BUM Desa dan koperasi dapat diarahkan untuk memperkuat mata rantai yang masih lemah. Jika produksi sudah tersedia tetapi distribusi terbatas, misalnya, penguatan jaringan pemasaran dapat menjadi prioritas.

  • Dari Pasar Lokal ke Pasar yang Lebih Luas

Membangun ekonomi dari desa bukan berarti membatasi produk hanya untuk konsumen lokal. Pasar desa dapat menjadi titik awal untuk menguji kualitas produk, harga, kemasan, dan pelayanan.

Ketika produk dan sistem usaha sudah cukup siap, jangkauan pemasaran dapat diperluas ke wilayah lain. Kanal digital, jaringan antardaerah, mitra usaha, maupun saluran distribusi lainnya dapat digunakan sesuai dengan karakter produk.

Namun, perluasan pasar harus berjalan seiring dengan kesiapan produksi dan operasional. Kapasitas, kualitas, stok, distribusi, dan pelayanan perlu diperhatikan agar peningkatan permintaan dapat dipenuhi secara konsisten.

  • Mempertahankan Identitas Produk Lokal

Pasar yang lebih luas memberikan peluang bagi produk desa, tetapi identitas lokal tetap perlu dipertahankan. Asal-usul produk, bahan yang digunakan, keterampilan masyarakat, budaya, maupun karakter wilayah dapat menjadi bagian dari identitas produk.

Identitas tersebut akan lebih kuat apabila didukung kualitas yang konsisten. Cerita mengenai produk tidak dapat menggantikan kualitas, tetapi dapat menjadi nilai pembeda ketika konsumen memiliki banyak pilihan.

Karena itu, pengembangan merek, kemasan, informasi produk, dan pelayanan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas produksi.

  • Perluasan Pasar Harus Mengikuti Kesiapan

Ekspansi yang terlalu cepat dapat menimbulkan persoalan apabila kapasitas usaha belum siap. BUM Desa dan koperasi perlu melihat kemampuan nyata sebelum memperluas pasar.

Beberapa aspek yang dapat diperhatikan meliputi:

  • kapasitas produksi;

  • konsistensi kualitas;

  • ketersediaan bahan baku;

  • sistem pengemasan;

  • pengelolaan stok;

  • distribusi;

  • pencatatan transaksi;

  • pelayanan pelanggan; dan

  • kemampuan mengelola kemitraan.

Kesiapan tersebut membuat pertumbuhan lebih terkendali. Pasar eksternal kemudian menjadi perluasan dari kekuatan ekonomi lokal, bukan pengganti ekosistem yang sudah ada di desa.

  • Kolaborasi yang Tumbuh dari Kebutuhan

Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan lebih relevan ketika dibangun dari kebutuhan nyata. Desa perlu memahami potensi yang tersedia, pelaku yang dapat dilibatkan, masalah yang harus diselesaikan, dan pasar yang ingin dituju.

Pendekatan tersebut membantu lembaga menghindari kerja sama yang hanya dibangun karena mengikuti tren. Setiap kolaborasi sebaiknya memiliki tujuan yang jelas dan dapat dievaluasi berdasarkan hasil.

Dengan proses yang bertahap, BUM Desa dan koperasi dapat belajar dari pengalaman, memperbaiki model kerja sama, serta memperluas kegiatan ketika kapasitas dan pasar sudah mendukung.

  • Dari Desa untuk Desa, Terhubung dengan Dunia

Kekuatan ekonomi desa tidak harus dibangun dengan menutup diri dari pasar luar. Sebaliknya, desa dapat memperkuat fondasi internal sekaligus membangun jaringan eksternal.

Potensi lokal, masyarakat, BUM Desa, koperasi, pelaku usaha, dan pasar dapat ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Ketika hubungan tersebut dikelola dengan baik, produk dan jasa dari desa memiliki peluang untuk berkembang tanpa kehilangan akar pada masyarakat yang menjadi sumber kekuatannya.

Pada akhirnya, prinsip dari desa untuk desa bukan sekadar tentang menghasilkan produk di wilayah sendiri. Prinsip tersebut juga berarti memastikan bahwa potensi lokal dapat menciptakan nilai, membuka kesempatan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

  • Bumdes.id sebagai Mitra Program Pemberdayaan BUM Desa

Sebagai platform yang berfokus pada penguatan dan pengembangan BUM Desa serta ekonomi perdesaan, Bumdes.id berkomitmen menjadi Mitra Program Pemberdayaan BUM Desa melalui pendekatan yang berangkat dari potensi, kebutuhan, dan karakteristik masing-masing desa atau kalurahan.

Melalui jaringan konsultan dan mitra profesional, Bumdes.id mendukung pelaksanaan program pemberdayaan BUM Desa, mulai dari identifikasi potensi, penguatan kapasitas pengelola, hingga penyusunan arah pengembangan usaha BUM Desa.

Pendekatan tersebut menempatkan penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha sebagai bagian yang saling terhubung. Dengan demikian, program pemberdayaan dapat diarahkan untuk membangun kapasitas, memperkuat perencanaan, dan membuka peluang pengembangan ekonomi yang sesuai dengan kondisi lokal.

Layanan Bumdes.id dalam Mendukung Program Pemberdayaan BUM Desa

  • Pemetaan Potensi Desa (Kalurahan)

  • Analisis Peluang dan Pengembangan Usaha BUM Desa/BUMKal

  • Penyusunan Strategi dan Perencanaan Bisnis

  • Pendampingan Business Model Canvas (BMC)

  • Penguatan Tata Kelola dan Kapasitas Pengelola

  • Penyusunan Jejaring dan Strategi Pengembangan Usaha Berbasis Potensi Lokal

  • Pendampingan Akuntabilitas dan Pengelolaan Keuangan Usaha Desa

  • Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Desa


Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Pertumbuhan ekonomi desa tidak cukup diukur dari bertambahnya transaksi atau jumlah unit usaha. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana aktivitas ekonomi mampu membuka peluang bagi masyarakat, memperluas akses pasar, meningkatkan nilai produk, serta memperkuat kemampuan pelaku usaha lokal.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun ekosistem ekonomi yang lebih terhubung. Masing-masing lembaga memiliki peran dan kapasitas yang dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi serta kebutuhan desa.

  • Menggerakkan Aktivitas Ekonomi Desa

BUM Desa dapat berperan dalam mengembangkan unit usaha, mengelola potensi lokal, dan membangun kegiatan ekonomi yang memiliki prospek pasar. Sementara itu, koperasi memiliki jaringan anggota yang dapat menjadi bagian dari aktivitas produksi, distribusi, maupun pemasaran.

Ketika kedua lembaga mampu membangun hubungan kerja yang jelas, aktivitas ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri. Potensi yang tersedia dapat dihubungkan dengan pelaku usaha, kebutuhan pasar, dan sumber daya yang dimiliki masyarakat.

Kolaborasi juga tidak berarti kedua lembaga harus menjalankan fungsi yang sama. Justru, perbedaan karakter dan kapasitas dapat menjadi kekuatan apabila diterjemahkan menjadi pembagian peran yang saling melengkapi.

  • Membuka Peluang bagi Pelaku Usaha Lokal

Pertumbuhan ekonomi akan lebih berarti ketika pelaku lokal mendapatkan ruang untuk berkembang. UMKM, kelompok masyarakat, petani, pengrajin, maupun pelaku usaha lainnya dapat dilibatkan dalam ekosistem sesuai dengan kebutuhan usaha.

Pelaku lokal dapat berperan sebagai pemasok bahan baku, produsen, pengolah, penyedia jasa, distributor, maupun mitra pemasaran. BUM Desa dan koperasi dapat membantu mempertemukan kebutuhan tersebut dengan peluang yang tersedia.

Dengan pendekatan ini, lembaga ekonomi desa tidak mengambil alih seluruh aktivitas usaha masyarakat. Sebaliknya, keberadaannya dapat menjadi penghubung yang membantu memperluas kesempatan dan menciptakan hubungan usaha yang lebih terorganisasi.

  • Memperluas Akses Pasar dan Kemitraan

Salah satu tantangan pelaku usaha lokal adalah keterbatasan akses terhadap pasar. Produk yang memiliki potensi belum tentu berkembang apabila tidak memiliki saluran distribusi dan pemasaran yang memadai.

BUM Desa dan koperasi dapat mengidentifikasi kebutuhan pasar, membangun jejaring, serta mencari bentuk kemitraan yang relevan. Saluran pemasaran dapat dikembangkan melalui pasar lokal, jaringan anggota, mitra usaha, distribusi antardaerah, maupun kanal digital.

Namun, perluasan pasar tetap harus disesuaikan dengan kesiapan usaha. Kapasitas produksi, kualitas produk, pengemasan, stok, distribusi, dan pelayanan perlu diperhatikan agar peningkatan permintaan tidak justru menimbulkan masalah operasional.

  • Meningkatkan Nilai Produk Lokal

Pertumbuhan ekonomi juga dapat didorong melalui peningkatan nilai produk. Produk lokal tidak harus selalu dijual dalam bentuk bahan mentah atau bentuk paling sederhana.

Peluang nilai tambah dapat muncul melalui pengolahan, pengemasan, standardisasi kualitas, identitas produk, pelayanan, dan strategi pemasaran. BUM Desa dan koperasi dapat mengidentifikasi bagian yang paling memungkinkan untuk diperkuat berdasarkan kebutuhan konsumen dan kemampuan pelaku usaha.

Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa inovasi tidak sekadar mengikuti tren. Setiap pengembangan perlu memiliki alasan bisnis yang jelas dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan konsumen.

  • Mengukur Dampak Kolaborasi

Kolaborasi BUM Desa dan koperasi perlu dievaluasi secara berkala. Pengukuran tidak hanya berfokus pada keuntungan atau jumlah transaksi, tetapi juga melihat dampak yang dihasilkan bagi ekosistem ekonomi desa.

Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:

  • pertumbuhan penjualan dan pelanggan;

  • perluasan akses pasar;

  • peningkatan nilai produk;

  • jumlah pelaku usaha lokal yang terlibat;

  • jumlah dan kualitas kemitraan yang terbentuk;

  • peningkatan efisiensi distribusi;

  • bertambahnya peluang usaha bagi masyarakat; dan

  • manfaat ekonomi yang kembali kepada masyarakat.

Indikator tersebut dapat disesuaikan dengan tujuan masing-masing kolaborasi. Yang terpenting, lembaga memiliki ukuran yang dapat digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan setelah program atau kerja sama dijalankan.

  • Menjaga Pertumbuhan agar Tetap Inklusif

Pertumbuhan ekonomi perlu memperhatikan siapa saja yang memperoleh manfaat. Pelaku usaha dengan kapasitas kecil tetap perlu memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi desa.

Karena itu, kolaborasi perlu dirancang agar tidak hanya menguntungkan lembaga, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang. Kejelasan mengenai kualitas, harga, volume, waktu pengiriman, tanggung jawab, dan pembagian manfaat dapat membantu menciptakan hubungan usaha yang lebih sehat.

Ketika pelaku lokal memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk terlibat, keberlanjutan kerja sama akan lebih mudah dibangun.

  • Menghubungkan Pertumbuhan Usaha dengan Pemberdayaan Masyarakat

Pertumbuhan bisnis dan pemberdayaan masyarakat sebaiknya tidak dipandang sebagai dua tujuan yang terpisah. Keduanya dapat berjalan bersama apabila kegiatan usaha dirancang dengan mempertimbangkan dampak terhadap ekosistem lokal.

BUM Desa dan koperasi dapat menggunakan data usaha untuk melihat perkembangan pasar sekaligus memantau keterlibatan masyarakat. Jika penjualan meningkat tetapi pelaku lokal tidak memperoleh ruang yang lebih besar, model kolaborasi mungkin perlu dievaluasi.

Sebaliknya, ketika pertumbuhan usaha diikuti peningkatan nilai produk, perluasan pasar, keterlibatan pelaku lokal, dan terbentuknya kemitraan baru, kolaborasi memiliki dasar yang lebih kuat untuk dikembangkan.

  • Pertumbuhan Ekonomi Membutuhkan Proses yang Terukur

Kolaborasi BUM Desa dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memiliki peluang untuk menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi masyarakat. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kemampuan lembaga memahami kebutuhan pasar, membangun pembagian peran yang jelas, melibatkan pelaku lokal, serta melakukan evaluasi secara berkala.

Pertumbuhan ekonomi desa pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar usaha berkembang, tetapi juga tentang seberapa luas manfaat yang tercipta dan seberapa kuat masyarakat dapat mengambil bagian di dalamnya.

Dengan tujuan yang jelas, tata kelola yang baik, dan pengukuran dampak yang teratur, kolaborasi dapat berkembang menjadi ekosistem usaha yang memberikan manfaat lebih luas bagi desa dan masyarakat.

  • Bumdes.id sebagai Mitra Program Pemberdayaan BUM Desa

Sebagai platform yang berfokus pada penguatan dan pengembangan BUM Desa serta ekonomi perdesaan, Bumdes.id berkomitmen menjadi Mitra Program Pemberdayaan BUM Desa melalui pendekatan yang berangkat dari potensi, kebutuhan, dan karakteristik masing-masing desa atau kalurahan.

Melalui jaringan konsultan dan mitra profesional, Bumdes.id mendukung pelaksanaan program pemberdayaan BUM Desa, mulai dari identifikasi potensi, penguatan kapasitas pengelola, hingga penyusunan arah pengembangan usaha BUM Desa.

Pendekatan tersebut menempatkan penguatan kelembagaan dan pengembangan usaha sebagai dua aspek yang saling terhubung. Dengan demikian, program pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan, tetapi diarahkan untuk membangun kapasitas dan peluang usaha yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Layanan Bumdes.id dalam Mendukung Program Pemberdayaan BUM Desa

  • Pemetaan Potensi Desa (Kalurahan)

  • Analisis Peluang dan Pengembangan Usaha BUM Desa/BUMKal

  • Penyusunan Strategi dan Perencanaan Bisnis

  • Pendampingan Business Model Canvas (BMC)

  • Penguatan Tata Kelola dan Kapasitas Pengelola

  • Penyusunan Jejaring dan Strategi Pengembangan Usaha Berbasis Potensi Lokal

  • Pendampingan Akuntabilitas dan Pengelolaan Keuangan Usaha Desa

  • Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Desa


19 Maret 2024

Kemitraan Narasumber Biro Bermas DIY Peningkatan Kapasitas BUMKal - Kelurahan Maguwoharjo

28 Desember 2022

Kunjungan Sekolah Bumdes

26 Desember 2022

Pelatihan Revitalisasi BUM Desa Paska PP 11 Tahun 2022

21 Desember 2022

Kunjungan Sekolah Bumdes

19 Desember 2022

Pelatihan Penyusunan Laporan Keuangan

Yuk, ikut jadi bagian dari perjalanan Bumdes.id

untuk membangun komunitas & layanan yang membantu menumbuhkan BUM Desa di seluruh Indonesia!
Join Komunitas